Page 333 - Demo
P. 333


                                    296Publik menduga, penetapan gelar pahlawan bisa dianggapsebagai hadiah simbolik atau pengakuan pasca-perjalananpanjang sejarah politik keluarga. Meskipun tentu saja%u2014secara resmi%u2014keputusan itu diklaim murni berdasar kajiandan prosedur. Tetapi politik, seperti biasa, lebih sulit dipisahkan dari perasaan dibandingkan piring pecah yang dilemdengan lem Korea.Di tengah pusaran itu, Yusril tetap menjaga posisi dannarasinya. Ia tidak mengatakan setuju, tidak pula menolak. Iaberdiri di tengah jembatan, memastikan ia tidak terpeleset kesalah satu sisi jurang opini publik. Sebagai pejabat pemerintah,katanya, ia tak boleh menyatakan dukungan atau penolakankarena tidak terkait kewenangan formalnya. Netralitas yangprosedural. Hati-hati yang diplomatis. Sikap yang mungkinmembuat sebagian aktivis merasa ini seperti menjawab dengan%u201cnanti saya kabari%u201d padahal sebetulnya ingin mengatakan%u201csaya tidak mau berurusan.%u201dNamun begitulah wajah politik Indonesia: di satu sisi kitaingin sejarah ditulis dengan jujur, tetapi di sisi lain kita gemarmenaruh urusan besar pada momentum-momentumseremonial seperti Hari Pahlawan. Setiap tahun, pemerintahmemberikan gelar pahlawan seperti cicilan, mungkin agar tiapNovember tetap punya acara meriah. Padahal kalau mauserius, negara bisa saja melakukan kajian menyeluruh danmengumumkan seluruh tokoh yang layak%u2014sekaligus. Tetapimungkin efek dramanya berkurang. Tidak ada countdown.Tidak ada spekulasi. Tidak ada tensi politik yang bisadigunakan sebagai penghangat suasana.
                                
   327   328   329   330   331   332   333   334   335   336   337