Page 334 - Demo
P. 334
297Lalu tibalah pertanyaan utamanya: apakah Soeharto layakmenerima gelar itu?Yusril diam. Pemerintah mempertimbangkan. Paraakademisi menolak. Para loyalis mendukung. Sejarahmenunggu. Dan bangsa ini kembali dihadapkan pada cerminretak bernama masa lalu%u2014yang tidak bisa diperbaiki dengansekadar piagam atau seremoni.Pada akhirnya, bangsa ini selalu punya satu kesibukanrutin: bertengkar dengan bayangan sejarahnya sendiri. Kadangbayangan itu tampak lebih besar, kadang tampak lebih gelap,kadang tampak lebih menakutkan dari kenyataannya. Namunkita mestinya belajar bahwa kehormatan bukan hanya tentangmengenang masa-masa yang tampak kokoh, tetapi jugatentang berani menatap sisi-sisi yang rapuh dan kelam.Jika gelar pahlawan sekali lagi menjadi arena tarik-ulurnya,mungkin ini waktunya bertanya: apakah kita sedangmemperingati para pahlawan, atau sedang memperjuangkankenyamanan politik kita sendiri?Dan seperti biasa, sejarah akan tertawa pelan, lalu menepukbahu kita sambil berkata: %u201dNak, bangsa besar bukan yangmemutihkan masa lalu, tetapi yang menanggungnya denganjujur.%u201d[]

