Page 338 - Demo
P. 338


                                    301Kalimatnya begini: %u201cKalau misalnya penyidik tidak bisamembuktikan, ya sudah, lepaskan.%u201dKalimat sederhana, normatif, dan sebetulnya merupakanasas hukum paling dasar: bebas jika tak terbukti. Namun videoitu disajikan dengan wajah tahanan yang%u2014entah kebetulanatau disengaja %u2014mirip Ammar Zoni. Meski konteksnya takada hubungannya dengan kasus tersebut, kreator videomemilih menyandingkannya dengan gambar tahananberkepala plontos yang dibuat menyerupai sang artis, seolahYusril sedang bicara langsung tentang nasib Ammar.Jika Aristoteles masih hidup, ia pasti geleng-geleng melihatbagaimana logika publik bisa dikacaukan oleh satu teknikediting standar: repetisi. Ucapan Yusril diulang berkali-kali agarseakan-akan menjadi pernyataan khusus, padahal itu hanyaprinsip umum bahwa proses hukum harus tunduk padapembuktian, bukan asumsi dan gosip tetangga.Video kedua lebih ajaib lagi: menampilkan Yusril seolahmenjenguk Ammar Zoni di Nusakambangan. Visualnyadramatis%u2014Yusril tiba di lokasi, bertemu tahanan, gambardiperbesar, judul sensasional, dan komentar-komentar yangmembuat pembaca yakin bahwa dunia memang sudahmemasuki babak kemalasan berpikir tingkat lanjut.Namun Yusril tidak marah, tidak mengemis klarifikasipanjang. Ia menanggapi dengan gaya yang hanya dimilikioleh orang yang sudah kenyang diserang rumor sejak era pagermasih ngetren: cukup membagikan link berita cek faktaKompas.com. Tanpa sepatah kata pun. Seakan berkata, %u201cNak,bacalah dulu sebelum kau teriak.%u201d
                                
   332   333   334   335   336   337   338   339   340   341   342