Page 339 - Demo
P. 339


                                    302Penelusuran jurnalis membuktikan bahwa video itu palsu.Adegan yang diklaim terjadi di Nusakambangan itu sesungguhnya adalah rekaman ketika Yusril mengunjungi PoldaMetro Jaya pada 9 September 2025 untuk memantau penanganan tahanan kasus demonstrasi akhir Agustus. Videoaslinya bahkan berasal dari akun TikTok resmi Kemenkumham. Jadi siapa yang mengubah konteks? Entahlah. Mungkintangan-tangan kreatif yang sedang menganggur setelah gagalaudisi konten motivasi.Hoaks ini menyebar seperti biasa: cepat, tanpa rasabersalah, dan tanpa peduli fakta. Yang penting klik. Yangpenting algoritma bahagia. Bahwa reputasi seseorang bisatercoreng? Itu urusan belakang.Di sinilah Yusril, sebagai Menko Hukum%u2014dan sebagaiarsitek kebangsaan yang sedang kita bahas dalam buku ini%u2014menunjukkan kelasnya. Ia tidak tergoda meladeni rumordengan kemarahan, juga tidak terjerumus dalam debat kusirala kolom komentar. Ia memilih jalur paling elegan:membiarkan fakta bekerja.Dan di negara yang gemar bereaksi sebelum berpikir, sikapitu terasa seperti angin adem di tengah gurun gosip digital.Di luar isu hoaks tersebut, Yusril tetap berdiri pada prinsip:proses hukum harus dijalankan, pembuktian harus presisi, dannegara tidak boleh terjebak pada popularitas kasus. Baginya,kasus Ammar Zoni tetap kasus hukum, bukan panggungsensasi. Pernyataannya yang dipelintir dalam video pertamasebenarnya adalah pengingat bahwa negara tidak bolehmenghukum seseorang hanya karena ia terkenal, atau karena
                                
   333   334   335   336   337   338   339   340   341   342   343