Page 89 - Demo
P. 89


                                    52hanya soal ekspor-impor, itu sama saja seperti bilangmasakan Italia cuma soal pasta %u2014ya benar, tapi ada lasagna,tiramisu, dan espresso yang harus dihargai juga.Kini, di hadapan rakyat Indonesia yang masih banyakmengutamakan warung kopi dibanding membaca laporanekonomi, Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra tampildengan aura serius tapi penuh harapan. Ia menegaskan bahwa penyelarasan sistem hukumnasional dengan standar OECD adalah langkah strategis untukmembawa Indonesia naik kelas. Bukan sekadar naik kelaskarena label, tapi naik kelas karena kualitas hukum, birokrasi,dan tata kelola yang makin matang. Seperti kata-katanya, %u201cDengan menjadi anggota OECD,Indonesia akan naik kelas dari negara berkembang menjadinegara maju, menyusul Jepang dan Korea Selatan.%u201dBayangkan, dari meja belajar yang semrawut ke kelas VIPdunia %u2014bukan perkara mudah, tapi juga bukan mustahil.Tentu saja, langkah ini menuntut perubahan besar:peraturan perundang-undangan harus ditata ulang, birokrasiharus disiplin, data harus rapi, dan praktik-praktik korupsiserta penyalahgunaan harus ditekan. Semuanya agar ketika dunia internasional menatap Indonesia, mereka tidak hanya melihat jumlah penduduk danpasar konsumsi, tapi melihat negara yang serius, disiplin, danpercaya diri. Sebuah negara yang bisa bermain adil, denganaturan yang jelas, di arena global yang kejam tapi elegan.Betul, OECD memang terdengar jauh dan asing, tapi bagiIndonesia, ia menjadi cermin: kita bisa menertibkan rumah
                                
   83   84   85   86   87   88   89   90   91   92   93