Page 93 - Demo
P. 93


                                    56menghormati hak Indonesia untuk memulangkan warganyayang tersangkut kasus serupa. Formal, legal, dan%u2014tentu saja%u2014penuh prosedur. Ada persetujuan napi, dokumen kesehatan fisik dan mental,masa pidana yang sudah dijalani, hingga bukti kewarganegaraan.Semua harus lengkap, atau transfer batal. Jadi ini bukan bartersembarangan, tapi sistem mutual legal assistance (MLA) incriminal matters yang dijalankan bak instrumen orkestra: setiapnada harus tepat, atau musik diplomasi akan fals.Dan di balik drama itu, ada keindahan yang ironis. Lapasyang dulu meledak penuh sesak bak panci popcorn%u2014273 ribuorang di kapasitas 140 ribu%u2014sedikit lega. Beban APBN yangtadinya terhisap untuk makan, pendidikan, hingga rekreasinapi, kini bisa dialihkan untuk subsidi rakyat kecil ataupembangunan infrastruktur. Jadi meski drama hukum inipenuh ketegangan, hasilnya bersahabat dengan kas negara.Kebijakan ini juga membawa prestise internasional. NilaiIndonesia di mata PBB, yang dulu sempat terjun bebas karenakasus unfair trial, kini meningkat menjadi netral. Sekadar angka di laporan? Bukan. Ini tanda bahwa negaraini belajar dari masa lalu, menegaskan integritas hukum, danmembangun kepercayaan diplomatik. Bahkan negara yang sebelumnya sulit diajak bekerja sama,kini menaruh perhatian. Malaysia, Arab Saudi, dan bahkannegara-negara Eropa kini melihat Indonesia tidak sekadarsebagai %u201cnegara berkembang yang asal-asalan%u201d, tapi sebagaipemain cerdas di arena global yang tahu kapan harus tegas,kapan harus luwes.
                                
   87   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97