Page 153 - Demo
P. 153


                                    116proses pencalonan lebih transparan, melibatkan anggota ataubahkan publik luas. Ini bisa menjadi %u201cvaksin%u201d terhadap praktikpolitik transaksional, karena kandidat tidak hanya ditentukanoleh elite kecil partai.Hal-hal inilah yang mesti didiskusikan oleh rakyat jelangpemilu yang masih empat tahun lagi. Tapi empat tahun itubisa terasa cepat, apalagi kalau DPR sibuk reses dan rapatrapat di luar negeri. kita tak ingin revisi UU dilakukan dengan tergopoh-gopoh menjelang 2029, hanya demi memastikan %u201caturan main%u201d cocok dengan kepentingan partaipartai besar.Sejarah membuktikan: UU Pemilu di Indonesia seringjadi komoditas tawar-menawar elite. Hampir selalu terjadi,pembahasan undang-undang pemilu dilakukan di saat-saatwaktu mepet. Akhirnya, rakyat yang hanya dapat sisa: nyoblos dengan wajah penuh harapan, lalu menonton wakilnyaberdebat soal hal-hal yang jauh dari kebutuhan sehari-hari.Satire ini bukan untuk menertawakan demokrasi.Demokrasi itu serius, tapi kalau dijalankan setengah hati, iajadi dagelan. Pertemuan Yusril dan Koalisi Masyarakat Sipilpatut diapresiasi. Setidaknya masih ada ruang dialog. Tapijangan lupa, demokrasi bukan hanya soal menerima masukan,melainkan menjadikannya dasar kebijakan.Dan di sinilah publik menaruh harap: apakah pemerintahakan membuktikan diri sebagai pemain fair play, atau sekadarpenonton yang pandai mengatur sorak-sorai? Apakah DPRakan bergerak, atau menunggu sampai %u201charga tiket%u201d benarbenar cocok?
                                
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157