Page 151 - Demo
P. 151
114bisa saja jadi semacam %u201cmenu diet sehat%u201d yang selalu dipajangdi brosur, tapi di kantin parlemen yang dipilih tetap nasi gorengplus sate kambing.Kedengarannya usulan mereka manis, juga cukup lengkap.Tapi bukankah setiap lima tahun sekali, kita selalu mendengarjanji %u201cdemokratisasi partai%u201d layaknya iklan sabun cuci piringyang menjanjikan kilau permanen? Faktanya, partai masihlebih mirip warung keluarga: yang jadi calon itu lagi, itu lagi.Penelitian Liddle dan Mujani (2021) mencatat demokrasiIndonesia mengalami stagnasi, terutama karena oligarki partaisemakin menguat. Sementara riset Burhanuddin Muhtadi(2019) menunjukkan politik uang makin dominan: hampir 40%pemilih mengaku pernah menerima %u201cserangan fajar.%u201d Jadi, apagunanya aturan baru kalau mentalitas lama tetap dipelihara?Salah satu usulan mereka, sistem pemilu MMP. Ini dikenalsebagai sistem campuran ala Jerman dan Selandia Baru. Ideini bagus: bisa meningkatkan keterwakilan dan efektivitas. Tapimari kita jujur: di Indonesia, sering kali yang mixed bukansistem, tapi perasaan rakyat %u2014antara bangga punya hak pilihdan kecewa setelah tahu siapa yang akhirnya duduk di kursiDPR.Studi akademis (Reilly, 2006) menegaskan bahwa MMPbisa memperkuat keterwakilan minoritas. Tapi bayangkankalau diterapkan di Indonesia tanpa kesiapan: partai mungkinakan mengutak-atik dapil dan daftar calon untuk memastikan%u201ckader senior%u201d tetap aman. Kita punya rekam jejak, bukan?UU Pemilu sering kali berubah sesuai kepentingan penguasasaat itu.

