Page 145 - Demo
P. 145
108Sementara itu, ibu Delpedro tetap menangis, netizen tetapribut, polisi tetap membacakan pasal, advokat tetap menentengKUHAP bagai kitab suci. Dan Yusril? Ia berdiri di tengah, bagaikomentator sepak bola yang yakin dirinya lebih paham strategiketimbang pemain di lapangan.Akhirnya, drama ini bergulir seperti komedi tragis. Yusrilberbicara tentang gentleman melawan hukum, Bivitrimengingatkan hukum bukan panggung netral, Delpedrobersikeras tak bersalah, rakyat menonton sambil mengunyahgorengan. Ada yang serius, ada yang sinis, ada yang sekadartertawa.Begitulah: tragedi bisa berubah jadi komedi, tangis ibu bisajadi simbol politik, kata %u201cgentleman%u201d bisa menjelma meme,dan hukum bisa menjelma panggung stand-up comedy palinglaris di negeri ini. Justru di situlah pelajaran: di tengahabsurditas, kadang kita memang hanya bisa tertawa. Kalautidak, mungkin kita sudah gila.***** Sikap seorang gentleman dalam menghadapi hukumbukanlah perkara sekadar berani atau pasrah, melainkan soalmemelihara martabat. Ia tahu, hukum tidak selalu hadir dalamwajah ideal yang menjunjung keadilan murni. Kadang ia lahirdari kompromi, bahkan dari keberpihakan.Namun, seorang gentleman memilih untuk tidakmerendahkan dirinya dengan tipu-daya, pelarian, atausekadar mencari celah untuk lolos. Ia menghadapi proseshukum sebagaimana seorang kesatria menatap lawan di

