Page 143 - Demo
P. 143
106Namun ia hadir dengan dada tegak, membacakan pledoipanjang yang ditulis tangan, menjadikannya manifestoperjuangan bangsa. Ia datang bukan mencari keringanan,melainkan menunjukkan martabat seorang pemimpin: beranimenghadapi hukum, sekalipun timpang.Di Afrika Selatan, Nelson Mandela mengulang pelajaranitu. Dalam Rivonia Trial tahun 1964, di hadapan hakim kulitputih yang siap menjatuhkan hukuman mati, ia berkatatenang: %u201cSaya siap mati demi cita-cita ini.%u201dIa tidak kabur, tidak meminta suaka, padahal kesempatanterbuka. Mandela memilih penjara dengan kepala tegak,menjadikan ruang sidang sebagai panggung moral. Puluhantahun kemudian, ia keluar bukan sebagai pecundang,melainkan sebagai presiden.Di Malaysia, Anwar Ibrahim mengalami berkali-kalituduhan politik. Ia dipenjara, diadili, digiring ke persidanganyang jauh dari netral. Tetapi ia tidak lari. Ia menulis dari balikjeruji, kembali ke gelanggang, hingga akhirnya menjadiPerdana Menteri. Martabatnya lahir bukan di panggungkampanye, melainkan di kursi pesakitan.Amerika Serikat pun punya cerita. Richard Nixon, terjepitskandal Watergate, memilih mundur demi menyelamatkandemokrasi dari krisis lebih dalam. John McCain, meski bukanterdakwa, dalam panasnya kampanye berani menegaskanlawannya%u2014Barack Obama%u2014bukan orang jahat. Itu cara lainmenunjukkan bahwa bahkan dalam pertarungan, ada etikayang tak boleh dilepas.Indonesia sendiri punya Gus Dur. Saat diterpa kasus

