Page 137 - Demo
P. 137


                                    100yang bolos ketika gurunya menerangkan fungsi limit, lalu paniksaat ujian tiba. Presiden, katanya, tentu punya kewenangan. Publik tentu boleh berdiskusi. Akademisi tentu bolehberdebat. Dan negara, ya negara semestinya mendengar.Sederhana. Namun justru di Indonesia, hal yang sederhanaitulah yang acap kali lebih rumit daripada mencari tahu siapasebenarnya dalang sinetron %u201cTersanjung%u201d jilid 19.Yang menarik, Yusril membiarkan publik membahasstruktur Polri, apakah tetap di bawah Presiden, dibuatkankementerian baru, atau dinaik-turunkan seperti lembaran dimesin fotokopi birokrasi. Ini bukan sekadar pernyataan teknis. Ini cermin dari gayakepemimpinan hukum Yusril yang selalu memadukan dua halyang jarang akur: ketegasan konstitusional dan kelenturanintelektual. Ia percaya bahwa negara bukan kandang ayam di manakeputusan dibuat oleh satu orang yang sedang lapar,melainkan arena gagasan yang harus diuji, disaring, dicerna,lalu diputuskan dengan akal sehat yang tidak absen.Dan di titik ini, kita kembali melihat Yusril dalam fungsisejatinya: arsitek kebangsaan. Ia tahu bahwa rancangan besarnegara ini tidak bisa dibuat dengan grusa-grusu. Reformasi Polri,apa pun bentuk akhirnya, memerlukan rancangan kokoh, fondasihukum yang presisi, dan imajinasi politik yang tidak asal comot. Sama seperti merancang rumah: kamar tidak bisadiletakkan di atap, toilet tidak bisa ditempatkan di ruang tamu,dan negara tidak boleh dikelola dengan perasaan %u201ckayaknyalucu kalau begini.%u201d
                                
   131   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141