Page 138 - Demo
P. 138
101Hukum di Indonesia hanya akan kokoh jika arsiteknyatidak sekadar pandai menggambar, tetapi juga mengertipondasi tanah tempat bangunan itu berdiri. Dan Yusril, suka tidak suka, sudah berada di baris terdepansejak Orde Baru bubar, Reformasi tumbuh, hingga negara inibelajar berjalan sendiri dengan langkah kadang gagah, kadangtersandung sandal jepit.Pada akhirnya, sebuah perjalanan panjang yang kadanglambat, kadang berliku, tapi selalu membutuhkan figur sepertiYusril %u2014orang yang bisa melihat batas konstitusi, memegangtegaknya hukum, dan tetap menyisipkan rasa humor tipistentang betapa seringnya negara ini lupa membaca manualbook-nya sendiri.Begitulah. Bangsa ini selalu menghadirkan drama. Namundrama, jika dipandu oleh akal sehat dan hukum yang jernih,bisa berubah menjadi teater kebangsaan yang lebih beradab. Dan di tengah panggung itu, Yusril terus menjagaperannya sebagai arsitek yang tidak hanya menggambarbangunan hukum, tetapi juga mengajarkan kita agar tidakmenaruh genteng di bawah pondasi.Pada akhirnya, pengalaman panjang, diskusi publik, dantarik-ulur sistem justru menjadi pengingat bahwa negara iniselalu punya harapan, selama masih ada orang-orang yangrela merawat akalnya. Kadang, keputusan besar memang harus ditunggu.Namun penantian itu sendiri%u2014dengan segala kelucuannya%u2014adalah ruang di mana kebijaksanaan tumbuh.[]

