Page 142 - Demo
P. 142


                                    105Perumpamaannya makin berwarna. Advokat, kata Yusril,bukan pembalap Formula 1 di lintasan mulus, melainkanpengemudi 4WD di tebing terjal: berlumpur, licin, kadangtanpa jalan sama sekali. Intinya: jangan manja, jangan mintajalan tol, jangan cari pintasan. Hadapi!Sebagai penutup kuliahnya, Yusril menohok lebih keras.Ia tidak menaruh hormat pada aktivis yang berteriak %u201cTangkapsi A, penjarakan si B!%u201d tetapi ketika dirinya dipanggil, buruburu minta deponering dengan alasan kriminalisasi. %u201cLebihburuk lagi kalau begitu,%u201d ujarnya.Publik pun terbelah. Pengagum Yusril memberi tepuktangan virtual: %u201cTop markotop, Pak Profesor!%u201d Para pengkritikjustru geleng kepala: %u201cBagaimana mau gentle kalau wasit ikutmain, penonton dibayar, aturan lomba berubah tiap limamenit?%u201dDi titik inilah Bivitri muncul sebagai penyeimbang. Dengangaya akademis, ia mengingatkan: hukum itu tidak netral.Dalam politik hari ini, hukum kerap menjadi palu kekuasaan.Saran Yusril mungkin indah di ruang kuliah, tapi getir diruang tahanan. %u201cYa tentu, kita akan hadapi proses hukum,%u201dkata Bivitri, %u201ctapi jangan pura-pura lupa siapa yang pegangpanggung.%u201d***** Sejarah memang menyimpan teladan tentang keberanianmenghadapi hukum. Tahun 1930, Soekarno berdiri di hadapanhakim kolonial Belanda. Ia tahu vonis sudah digariskan, sadarpengadilan tidak pernah netral.
                                
   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146