Page 146 - Demo
P. 146


                                    109medan laga: dengan kepala tegak, tanpa kehilangan adab.Baginya, hukum adalah arena untuk menguji integritas,bukan sekadar ajang menang-kalah. Ketika ia benar, ia bersuaralantang dengan bukti dan argumentasi, tanpa harus menindasatau menghardik.Dan ketika ternyata salah, ia tidak lantas jatuh hina denganpembelaan yang mengada-ada, melainkan mengakui danmenanggung akibatnya. Di situlah kemuliaannya: kesanggupan menerima konsekuensi tanpa kehilangan harga diri.Gentleman bukan berarti tunduk buta pada aturan,melainkan tegak menjaga keseimbangan antara hak dankewajiban, antara kritik dan kepatuhan.Ia bisa menantang hukum yang bengkok, namun tetapmenggunakan jalan hukum itu sendiri, bukan dengan carayang licik. Ia bisa menggugat, membela, bahkan melawan,tapi tanpa menjatuhkan derajatnya sendiri ke dalam lumpurkebencian atau dendam.Maka, dalam wajah hukum yang kerap abu-abu ini,seorang gentleman justru hadir sebagai cahaya. Ia memberiteladan bahwa menghadapi hukum bukan soal lari ataumenyerang, melainkan soal berdiri teguh dengan penuhkeberanian dan kehormatan.Karena pada akhirnya, martabatlah yang menjadi penentu,bukan sekadar vonis di atas kertas.[]
                                
   140   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150