Page 325 - Demo
P. 325
288Tidak heran jika dampaknya meluas hingga ke loronglorong keluarga yang semula baik-baik saja. Anak SD kenacandu gim berbonus judi, remaja terjebak utang ratusan ribuyang kemudian beranak-pinak jadi jutaan, dan orang dewasaterjerumus seperti ditarik pusaran air yang tak terlihatujungnya.Lalu datanglah berita-berita tragis yang membuat bangsaini mendesah panjang. Seorang mahasiswa di Jawa Tengahnekat mengakhiri hidupnya setelah utang judi mencapaibelasan juta. Seorang bapak muda di Sulawesi ditemukan gantung dirikarena tak sanggup membayar utang yang dikejar debtcollector bayangan. Seorang ibu rumah tangga di Jakarta terjun dari lantaiempat setelah kehilangan seluruh tabungan keluarga%u2014bahkanuang sekolah anak pun ikut terseret. Semua itu terjadi bukan karena mereka tak tahu risiko,tetapi karena sistem yang membuat manusia biasa terseretdalam arus adiktif yang dirancang untuk selalu menang dipihak rumah taruhan.Di tengah kekacauan moral dan sosial ini, Yusril IhzaMahendra, Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, danPemasyarakatan, tampil seperti guru besar yang sudah terlalusering mendengar alasan mahasiswa: %u201dPak, saya telat bukankarena saya malas, tapi karena alam semesta tidak mendukung.%u201dYusril menyampaikan bahwa hukuman maksimal 10tahun untuk bandar dan 4 tahun untuk pemain tidak akanmempan. Hukuman itu, katanya, hanya membuat para

