Page 321 - Demo
P. 321


                                    284didengar seperti dengung kipas angin, tetapi betul-betulmenjadi dasar langkah-langkah pemerintah. Ia memposisikandiri sebagai jembatan%u2014atau lebih tepatnya, penjelas%u2014antarapublik yang marah dan pemerintah yang sedang merapikanlangkah.Padahal, jika dipikir, demonstrasi kali ini punya karakterberbeda. Ia bukan hanya gerakan kampus, bukan sekadar aksimahasiswa idealis dengan rambut acak-acakan dan posterkreatif. Ia digabungkan oleh suara-suara kecil dari kampung:petani yang pajaknya naik, pedagang pasar yang makin seret,warga urban yang frustasi dengan pungutan daerah. Semuaitu menandakan satu hal: masyarakat luas sedang hausperubahan yang lebih cepat dari ritme birokrasi.Yusril menjawab itu dengan logika hukum, tetapi publikmenagih jawaban yang terasa lebih langsung. Di sinilah tarikmenarik itu terjadi: antara keinginan rakyat untuk perbaikansecepat mungkin, dan kemampuan negara yang serba prosedural.Sementara itu, tuntutan reformasi kepolisian menjadisimbol paling kuat bahwa masyarakat tidak hanya inginperubahan kosmetik. Mereka ingin aparat yang benar-benarsipil dalam jiwa, bukan hanya dalam peraturan. Mereka inginpolisi yang melayani, bukan menakutkan. Mereka ingin aparatyang menjadi pelindung, bukan sekadar pemegang pangkat.Dan di tengah percakapan itu, Yusril terlihat seperti seorangarsitek hukum yang sedang mengevaluasi bangunan yang iaikut dirikan dua dekade lalu. Ada sedikit rasa prihatin, sedikitrasa optimis, sedikit kenangan pahit, tetapi juga kesadaranbahwa pekerjaan rumahnya belum selesai.
                                
   315   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325