Page 316 - Demo
P. 316


                                    279empati, dari kinerja hingga integritas, rakyat mempertanyakan:siapa sebenarnya yang Anda wakili di gedung itu?Begitulah konteks yang membuat pernyataan Yusril terasarelevan, bahkan mungkin menyentil sebagian telinga politikusyang sedang menikmati kursi empuknya. Ia tidak sekadarmembandingkan masa lalu dan masa kini. Ia sedangmengingatkan bahwa sistem yang tidak adil akan terusmenghasilkan parlemen yang tidak ideal. Demokrasi tidak bisadibiarkan berjalan di atas rel yang bengkok, karena kereta yanglewat pasti ikut oleng.Ironisnya, kalau kita mau jujur, sistem pemilu kita inisemakin rumit, semakin penuh pengecualian, dan semakinjauh dari semangat awal Reformasi yang ingin membuka pintupolitik bagi siapa saja. Kini politik cenderung kembali ke zaman%u201cyang kuat yang menang, yang lemah minggir dulu%u201d. Dan ditengah pusaran itu, Yusril mengingatkan: tidak semua yangpopuler layak legislatif, dan tidak semua yang kompeten harusdilindas angka ambang batas.Refleksinya sederhana: demokrasi harus memberi ruangbagi kualitas, bukan hanya kuantitas. Pintu parlemenseharusnya tidak dijaga oleh angka statis yang mematikankesempatan individu. Bacaan sejarah politik 25 tahun terakhirmenunjukkan satu hal yang konsisten: setiap kali kitamemagari demokrasi terlalu rapat, selalu ada harga mahal yangharus dibayar. Jika 1999 adalah jeda nafas yang segar,mungkin kini kita perlu kembali belajar dari sana%u2014bahwasuara rakyat, betapapun kecilnya, tidak boleh dikecilkandengan angka empat persen semata.[]
                                
   310   311   312   313   314   315   316   317   318   319   320