Page 311 - Demo
P. 311


                                    274terhormat. Padahal rakyat hanya ingin aturan pemilu yangadil, bukan drama siapa yang lebih berwenang.Para ketua umum partai besar? Mereka bermain amansembari melihat angin politik dari Istana. Bahkan kabarnyaada keinginan menaikkan parliamentary threshold hingga 7persen. Bayangkan, 7 persen! Itu bukan threshold, itu treadmillpolitik. Partai kecil diminta lari, tapi landasannya makin miring.Dalam kondisi seperti itu, kualitas DPR yang menurutYusril %u201clebih buruk dari 1999%u201d bukan sekadar perbandingannostalgia. Itu alarm dini. Ketika semua partai dirangkulpemerintah, ketika partai kecil tersingkir, ketika suara rakyatterbuang, ketika oposisi tinggal formalitas, maka DPR menjadisemacam lembaga serbaguna: ada, lengkap, megah, tapi taklagi setajam dulu.Kualitas DPR bukan hanya soal kemampuan bicara, tapikemampuan menolak. Bukan hanya soal aneka UU yangdisahkan, tapi sejauh mana UU itu melindungi rakyat, bukanmemudahkan koalisi. Dan ketika perdebatan politik lebihdifokuskan pada siapa dapat kursi ketimbang siapa membelasuara pemilih, maka kita paham bahwa Yusril sedang bicarasesuatu yang sangat serius di balik wajah yang selalu tenangitu.Akhirnya kita kembali ke pertanyaan yang menyengat:jika demokrasi dibangun di atas perwakilan, mengapa kitabegitu tekun membangun pagar agar semakin sedikit rakyatyang terwakili? Mengapa suara-suara yang tidak mencapaiempat persen harus berakhir di kotak sampah politik, padahaldi panggung kampanye mereka sama-sama warga negara?
                                
   305   306   307   308   309   310   311   312   313   314   315