Page 306 - Demo
P. 306


                                    269Di sinilah refleksi Yusril terasa jernih: DPR 1999 memangribut, keras, dan penuh perbedaan. Namun ributnya itu sehat.Sedangkan DPR hari ini tenang, rukun, dan penuh pesohor.Tapi kerukunannya justru menyembunyikan krisis integritas,keterwakilan, dan kualitas legislasi.Pada akhirnya, kita tersadar bahwa demokrasi bukansedang melahirkan bintang baru, melainkan sedangkehilangan cahaya akalnya. Dan kita semua harus bertanya:apakah DPR ingin menjadi ruang perumusan kebijakan, atauruang konferensi pers para selebritis politik?Refleksi terakhirnya pahit namun perlu:Jika popularitas mengalahkan kompetensi, maka yang kitapilih bukan wakil rakyat, tetapi tokoh panggung yang sekadarpindah venue. Dan jika pendidikan dianggap rahasia, makamasa depan negeri ini akan dibentuk oleh tangan-tangan yangtidak ingin kita lihat riwayatnya.Mungkin sudah saatnya rakyat kembali memilih denganakal, bukan dengan adrenalin. Sebab di balik suara yang kitaberikan, terdapat nasib masa depan yang sedang ditulis%u2014dankali ini bukan oleh penulis skenario sinetron, tetapi oleh 580orang di Senayan.[]
                                
   300   301   302   303   304   305   306   307   308   309   310