Page 309 - Demo
P. 309


                                    272koalisi. Suara minoritas masih punya ruang, perdebatan masihpunya makna, dan pengawasan terhadap eksekutif masihpunya gigi. Lalu, perjalanannya berubah ketika kita memasukiera koalisi di atas segala koalisi, terutama sejak masa JokoWidodo. Hampir seluruh partai politik dirangkul, dipeluk,diopeni, dipayungi, disayang %u2014seakan-akan pemerintahanadalah acara keluarga besar yang memerlukan suasanaharmonis walau mengorbankan keberagaman suara.Ketika hampir semua partai ada di pemerintahan, DPRkehilangan fungsi oposisi secara struktural. Mengukurkualitasnya jadi mudah: lihat saja seberapa sering merekamenolak kebijakan pemerintah? Seberapa lantang suaraminoritas di ruang sidang? Seberapa ketat DPR mengawasianggaran, UU, dan kebijakan? Kalau jawabannya samadengan frekuensi saya melihat kucing berjemur pakaisunblock, ya berarti Yusril tidak sedang berlebihan.Lalu ambang batas parlemen%u2014si kecil tapi sakti itu%u2014memainkan perannya. Ketika parliamentary thresholddinaikkan menjadi angka yang cukup tinggi (4 persen), partaipartai kecil tersingkir. Konsekuensinya, DPR semakin padatoleh partai besar yang cenderung mengurusi urusan sendiri,bukan urusan rakyat. Sementara suara rakyat dari partai-partaikecil terpaksa %u201cterbuang%u201d %u201417,3 juta suara pada Pemilu 2024hilang begitu saja. Bagi demokrasi, 17 juta suara itu bukansekadar angka, melainkan tanda bahwa kita membangunrumah perwakilan tapi menutup beberapa pintu bagi wargatertentu.
                                
   303   304   305   306   307   308   309   310   311   312   313