Page 305 - Demo
P. 305
268Namun inti kekhawatiran Yusril bukan pada artisnya,melainkan pada motif partai. Partai merekrut artis karenapopularitas, bukan kapasitas. Karena suara mudah dibeli olehwajah yang familiar di TV, bukan oleh gagasan yang sulitdipahami. Karena sistem pemilu kita membiarkan popularitasmenggantikan integritas. Dan itulah tanda penurunan kualitasDPR.Masalahnya semakin pelik ketika kita melihat perubahanstruktur koalisi pemerintahan. Sejak era Jokowi, hampir seluruhpartai masuk kabinet, menyisakan oposisi yang tinggal namadalam konstitusi. Dengan kondisi semua partai dirangkul, DPRkehilangan kemampuan untuk mengkritik, mengontrol, ataubahkan mengajukan pertanyaan yang menyulitkan.Jika sudah begini, popularitas menjadi senjata ampuh, danpendidikan berubah menjadi ornamen belaka. Badut politikyang disukai publik lebih mudah dipilih dibandingkanakademisi yang kurang dikenal. Maka jadilah DPR sepertiruang tamu besar tempat pesohor, influencer, dan bintang lamabertemu untuk %u201cmengabdi%u201d%u2014meski kita belum tahu apakahpengabdian itu sungguh-sungguh atau hanya transisi karier.Pertanyaannya kini: bagaimana mungkin kita menuntutDPR yang berkualitas jika struktur politiknya mendorongpartai untuk memilih kandidat berdasarkan engagement,bukan enlightenment? Bagaimana kita mengharapkanparlemen jadi ruang intelektual jika syarat masuknya hanyasetingkat SMA? Bagaimana kita bisa percaya pada rancanganundang-undang ketika dua ratus lebih anggota DPR bahkantidak mau menyebutkan pendidikan terakhir?

