Page 299 - Demo
P. 299
262spesifikasi. Masa anggota DPR tak perlu mencantumkanspesifikasi akademiknya?Ketika kualitas menurun, representasi rakyat ikut merosot.Ketika representasi merosot, kebijakan jadi seperti hujan derasyang turun tanpa melihat siapa yang sedang berteduh dansiapa yang sedang tidur tanpa atap.Karenanya Yusril ingin sistem yang membuka ruang lebihbesar bagi rakyat berbakat, sekaligus menutup celah bagiwakil rakyat karbitan yang hanya muncul menjelangkampanye. Bukan untuk membatasi profesi tertentu, tetapiuntuk mengembalikan martabat parlemen: bahwa DPR bukanpanggung audisi, bukan arena content, bukan rumah produksisinetron politik.Lalu apa relevansi perbandingan dengan negara lain?Banyak. Di Jepang, kandidat DPR biasanya lahir dari jalurpanjang: sekolah politik, magang di kementerian, asistenparlemen, baru kemudian maju. Di Jerman, partai menyaringcalon lewat debat internal, uji kompetensi, dan track record.Di Kanada, masyarakat menilai calon bukan dari wajah dibaliho, tapi dari rekam jejak di komunitas. Indonesia? Kita masih bergulat antara popularitas dankapasitas. Antara viral dan visioner. Antara elektabilitas dankemampuan legislasi.Dan di titik inilah pernyataan Yusril terasa sebagairenungan nasional. Kita diajak memikirkan kembali, apakahdemokrasi kita ingin memproduksi regulasi atau sekadarrating? Apakah parlemen ingin jadi institusi representatif ataupanggung hiburan alternatif ketika industri televisi kehilangan

