Page 298 - Demo
P. 298


                                    261punya kesempatan menjadi caleg tanpa harus bersaing denganartis yang jumlah follower-nya 12 juta dan unggul karenalingkungan digital memuja sensasi.Di sinilah Yusril menyentil fenomena artis yang memenuhikursi DPR. Ia tidak anti-artis %u2014Yusril terlalu berpendidikanuntuk alergi pada profesi apa pun%u2014 tapi ia gusar ketikabangku DPR tiba-tiba seperti panggung variety show. Bagaimana tidak, 23 artis masuk DPR dan dua masukDPD. Itu baru yang tercatat. Belum termasuk yang karier layarkaca-nya meredup, lalu hijrah ke Senayan seperti pedagangyang pindah lapak di pasar. Ada pula fenomena JamaludinMalik berkostum Ultraman saat pelantikan %u2014peristiwa yangmembuat kita bertanya, %u201cIni pelantikan parlemen atau festivalcosplay?%u201d Seakan-akan DPR adalah ruang di mana kualitasbisa ditukar dulu di lobi, sebelum masuk ruang sidang.Masalahnya bukan profesi mereka, tapi kualitas danorientasi mereka. Apakah mereka paham regulasi? Apakahmereka paham legislasi? Apakah mereka tahu perbedaanantara nota keuangan dan nota cinta dari fans? Atau apakahmereka hanya modal popularitas?Latar belakang pendidikan anggota DPR pun jadi urusanlain. BPS mencatat 63 anggota DPR lulusan SMA, dan itu tidaksalah sama sekali %u2014UU memang mengizinkan. Yang lebih gawat: ada 211 anggota yang tidakmencantumkan latar pendidikan. Tidak mencantumkan! Kitamemilih wakil rakyat yang tidak memberi tahu sekolahterakhirnya. Bahkan marketplace pun lebih ketat: kalau Andamenjual rice cooker, Anda diwajibkan mencantumkan
                                
   292   293   294   295   296   297   298   299   300   301   302