Page 296 - Demo
P. 296
259Kajian ini ibarat tukang servis AC yang datang melihatunit bocor, lalu memotret, mengangguk-angguk, tapi belumjuga mengganti pipa. Namun Yusril, sebagai Menko sekaligus sejarawan hukumyang terkadang lebih hafal detail amandemen UUD daripadahafalnya penjual pulsa pada daftar harga paket internet, tahubahwa waktu untuk berbenah tak banyak. Pemilu berikutnyasudah mengintip dari balik jendela kalender.Lalu apa yang sedang dikaji? Inilah bagian menariknya.Ada tiga sistem yang kini dilempar ke meja, dan rakyat dimintamembayangkan: mana yang paling masuk akal untuk negeriyang kadang lebih suka drama daripada data?Pertama, sistem proporsional terbuka seperti sekarang.Sistem ini membuat pemilih bisa memilih nama caleg langsung,bukan hanya partainya. Kedengarannya demokratis, tapiprakteknya malah memaksa partai mengincar figur terkenal.Akibatnya? Parlemen berubah jadi panggung jumpa fans:artis, influencer, selebritas TikTok, bahkan kadang muncul figuryang kita pikir seharusnya sedang main sinetron, bukanmembahas RUU. Dalam dunia medis, ini disebut%u201cketidaksesuaian kompetensi.%u201d Dalam dunia politik, ini disebut%u201cmenang karena viral.%u201dKedua, ada opsi proporsional tertutup. Sistem ini sepertimenyuruh rakyat memilih perusahaan, lalu perusahaanmenentukan pegawai terbaik yang dikirim. Di Jerman, sistemini bikin partai serius dalam kaderisasi; mereka tidak akanmenaruh nama sembarangan, apalagi nama yang cumadikenal karena pernah tampil di FYP.

