Page 314 - Demo
P. 314


                                    277Yusril menyaksikan dengan mata kepala sendiribagaimana sistem pemilu yang kala itu belum dipasangi pagarthreshold memungkinkan banyak partai kecil %u2014termasukpartainya sendiri, Partai Bulan Bintang%u2014 mengirim kader keSenayan tanpa harus merogoh saku kampanye miliaran ataumenyewa buzzer setingkat embuh.Dan benar juga: dulu PBB bisa tampil penuh gaya, masuk kegelanggang politik dengan elegan, berdebat secara substantif,tanpa dihantui angka keramat empat persen. Sistem pemilu 1999itu, mau jujur atau tidak, jauh lebih ramah bagi partai-partai yangbukan anak konglomerat politik. Threshold belum menjadimomok, belum berubah jadi pagar listrik besar yang mematikanpeluang partai yang tak punya mesin elektabilitas raksasa.Nah, kemudian sejarah berjalan seperti biasa: dari inginmerapikan sistem, kita malah menambah pagar di manamana. Maka lahirlah parliamentary threshold, yang kian lamakian meninggi, seolah hanya tangan-tangan politik berkekuatan super hero yang bisa melampauinya. Suara rakyat?Ah, itu nanti dulu. Yang penting angka empat persen itu terpenuhi. Kalau partainya gagal, meskipun seorang calonmendapat suara pribadi melimpah bak es teh jumbo di siangbolong, ia tetap tak boleh masuk Senayan. Demokrasi kita,rupanya, bisa juga memperlakukan suara rakyat seperti stempelparkir: berlaku hanya jika memenuhi syarat tertentu.Tak heran Yusril beberapa waktu lalu bicara terus terangtentang penurunan kualitas DPR. Di kanal YouTube-nya iamenyindir dengan gaya datar tapi pedas: partai kini lebih sukamerekrut artis, influencer, atau siapa pun yang populer, bukan
                                
   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317   318