Page 315 - Demo
P. 315
278mereka yang memang berbakat di politik. Popularitas menggantikan kapasitas. Keviralan menggantikan pemikiran. Dan hasilakhirnya? Performanya ya seperti itu: DPR yang menurut Yusrilkualitasnya menurun dibanding 1999. Bukan saya yang bilang,lho. Itu kata Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, danPemasyarakatan sendiri.Dan jangan lupa konteksnya: perubahan sistem pemilu sertaambang batas bukan hanya mengubah siapa yang duduk diSenayan, tetapi juga mengubah cara kerja politik itu sendiri. Ketikasuara pribadi seseorang yang mungkin diperoleh dengan susahpayah tetap tak berarti jika partainya gagal mencapai threshold,maka sebenarnya kita sedang membentuk demokrasi yangsemakin elitis: suara individu dianggap penting hanya kalau partaimenyentuh angka ajaib itu. Dan Yusril%u2014akademisi hukum tatanegara yang hidupnya penuh interaksi dengan pasal, ayat, dantafsir%u2014jelas menangkap anomali ini.Itu sebabnya ia ikut mendorong agar threshold dievaluasi,bahkan kalau perlu dihapus atau diganti skema lain. MKsendiri beberapa waktu lalu sudah memberi isyarat soalperlunya reformasi sistem politik. Presiden Prabowo punberkali-kali menyuarakan hal serupa. Tapi entah kenapa,perbaikan sistem pemilu ini seperti selalu dimasukkan ke laciberlapis: dibahas, dikaji, dipelajari%u2014tapi jarang diputuskan.Sementara di luar sana, rakyat bergerak. Muncul gelombangprotes bertajuk Gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat. Sekilas terdengarseperti paket kurikulum baru, padahal isinya adalah daftar panjang permintaan rakyat kepada wakil-wakilnya yang dianggapmakin jauh dari realitas masyarakat. Dari soal transparansi sampai

