Page 405 - Demo
P. 405
368LIMA PULUH TUJUHInkonsistensi LegislasiKonon, di negeri yang mengaku bernafaskan \hukum\Dipaku kuat, dicat terang, tujuannya agar semuapengguna jalan negara tahu kapan mesti berhenti, kapan harusjalan, dan kapan wajib minggir agar tidak menabrak martabatkonstitusi.Di atas panggung aula Universitas Pamulang, TengerangSelatan, Banten, Prof. Yusril Ihza Mahendra pagi itu mengingatkan kembali betapa rambu-rambu hukum kita sering diperlakukan seperti plang warung mie ayam: gampang dipindah,kadang dicopot, kadang disimpan di dapur, kadang dipasangmiring, pokoknya terserah yang punya kuasa.Yusril tidak sedang menguji mahasiswa. Ia menguji kesabaranbangsa. Sebab menurutnya, inkonsistensi pelaksanaan putusanMahkamah Konstitusi (MK) bukan lagi salah ketik atau salah

