Page 408 - Demo
P. 408
371para pengamat%u2014 lebih mirip akrobat legislasi daripada refleksiatas putusan MK.Belum selesai soal itu, muncul lagi perkara \MK dulu bilang pemilu presiden dan legislatif harus digabung.Pemerintah panik setengah mati, birokrasi ikut kejang ringan,partai politik mendadak sok bijak seolah mengerti makna\tergesa-gesa.Lalu apa yang terjadi? MK belakangan menggugat dirinyasendiri. Putusan baru menyatakan pemilu harus dibelah: pemilupusat dan pemilu daerah dipisah. Sialnya, kedua putusan itusama-sama final and binding.Kalau dalam fikih ada istilah nasikh-mansukh, maka di MKversi modern inilah kita menyaksikan lahirnya mansukh tanpanasikh dan nasikh tanpa mansukh dalam satu napas %u2014 semuaberlaku, semua mengikat, dan semua bikin pusing pemerintah.Yusril bertanya kepada Hamdan Zoelva, mantan Ketua MK,\jawaban Hamdan sangat filosofis, nyaris sufistik: \Bang.\tapi tidak untuk jadwal pemilu nasional.Inkonsistensi legislasi ini, menurut Yusril, muncul karena tigasumber: politik, tafsir, dan ego kekuasaan.Pertama, politik. Jangan membayangkan pembentukanundang-undang itu pekerjaan sakral seperti menyalin mushaf. Ialebih mirip rapat panitia konsumsi hajatan desa. Semua pihakdatang membawa kepentingannya masing-masing, dan setiapnorma adalah hasil tarik-menarik antara ideologi, lobi, dan janji-

