Page 103 - Demo
P. 103


                                    66risiko secara ketat dan berbasis data%u2014seperti yang dilakukanBNPT melalui pendekatan non-kepolisian, surveilans moderat,dan mekanisme kontrol berlapis yang tak mencolok tapi efektif.Dan tentu, seluruh ini juga mengandung ironi besar: padasaat negara mempelajari detail hukum militer AS, rakyat justrubertanya hal yang lebih sederhana namun eksistensial: %u201dKalaudipulangkan, apakah kita siap?%u201d Pertanyaan ini tidak bisadijawab dengan konferensi pers, tetapi dengan kesiapankebijakan yang panjang, rumit, dan bisa membuat penelitiakademis merinding bahagia.Namun seperti biasa, hidup punya caranya sendiri untukmenggugat keberanian kita. Di tengah ketakutan publik, adafakta yang sering dilupakan: apa pun kesalahannya, Hambalimasih WNI. Kita nggak bisa membuangnya ke lautinternasional seperti barang hilang. Pada akhirnya, pendekatan Yusril %u2014yang menekankankeadilan, pendekatan konstitusional, dan kewajiban humaniter%u2014 adalah pengingat bahwa negara tidak boleh menjadicermin dari kebencian, melainkan penegak prinsip, betapa punpelik konsekuensinya.Ironisnya, kasus Hambali justru menunjukkan sisi lembutnegara yang jarang terlihat: negara yang tegas dalam perangmelawan terorisme, tapi juga enggan melepaskan kewajibannya pada seorang warga negara yang tersesat terlalu jauh. Di sinilah tragedi sejarah bertemu kewajiban modern; disinilah rasa takut publik bertemu rasa tanggung jawab negara;dan di sinilah bangsa belajar bahwa terorisme bukan hanyasoal bom di masa lalu, tetapi juga soal strategi politik, soal
                                
   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107