Page 99 - Demo
P. 99


                                    62juga sebuah kewajiban negara seturut konstitusi: melindungiwarga negaranya, betapa pun gelap track record mereka. Dalam teorinya, negara memang tidak boleh pilih kasih;dalam praktiknya, tentu publik berharap kasih itu adabatasnya.Apalagi Jemaah Islamiyah %u2014yang dulu menjadi buah bibirglobal%u2014 mengaku sudah bertobat dan menyatakan janji setiakepada NKRI. Yusril tampaknya membaca momentum itusebagai peluang untuk menata ulang politik penangananterorisme: bukan sekadar soal penjara, tetapi reintegrasi sosialyang diperhitungkan secara matang. Pada titik ini, publik menatap curiga, karena pengalamantraumatis bangsa tidak bisa dihapus dengan pengakuan tobatbelaka. Namun Yusril mengingatkan: jika Abu Bakar Ba%u2019asyirpun bisa keluar tanpa menimbulkan %u201cchaos%u201d yang duluditakutkan masyarakat, maka jangan-jangan publik kita inilebih dewasa dari yang sering kita kira %u2014atau, bisa juga, kitamemang sedang lelah.Anehnya, di tengah wacana pemulangan Hambali dansegala bayang-bayang kelam masa lalu, publik justrumenyadari sebuah fenomena yang mencolok: teriakanterorisme tiba-tiba senyap di era Prabowo. Seolah-olah pasarketakutan itu sudah tidak laku lagi dijajakan. Kalau dulu isu teror bisa muncul dari layar televisi hinggamimpi buruk warga, kini di masa pemerintahan baru, topikitu menghilang seperti sinetron yang rating-nya turun drastis. Di seberang sana, Donald Trump pun %u2014yang biasanyadikenal dengan gaya retorika bak badai gurun%u2014 justru
                                
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103