Page 166 - Demo
P. 166
129Inilah masalah klasik birokrasi hukum kita: ketika ada cacatproses, yang diselamatkan adalah hasil akhirnya, bukan sistemnya. Seperti dokter yang mengoperasi pasien tanpa cuci tangan,tapi menganggap tidak apa-apa karena pasiennya kebetulansembuh.Yusril berdiri di garis resmi, sudah seharusnya menjaga citrabahwa negara berjalan di koridor hukum, sementara Tom menunjukkan bahwa koridornya berlubang, licin, dan penuh jebakan.Publik pun belajar, abolisi dan amnesti memang bisamenyelamatkan individu, tapi tidak otomatis menyelamatkankewarasan sistem. Dan selama pejabat hukum kita lebih sibukmenjaga %u201cgood corporate governance%u201d versi pidato, ketimbangmemastikan proses di lapangan bersih, kita akan terusmengulang sirkus ini dengan pemain berbeda.Jadi, kalau Tom bilang mau move on, mungkin maksudnyamove on dari status terdakwa, bukan move on dari keinginanmemberi pelajaran kepada para %u201cwasit%u201d dan %u201cpanitia pertandingan%u201d yang seenaknya mengubah aturan main.Dan kalau Hasto memilih diam, bisa jadi itu strategi %u2014karena di negeri ini, kadang yang banyak bicara kalah cepatdari yang tahu kapan harus diam.Akhirnya, kita harus akui satu hal: di republik ini, hukummemang bisa dihapus dengan selembar keputusan presiden.Itu patut disyukuri terutama bagi mereka yang bebas.Tapi rasa tidak adil? Itu tidak bisa dihapus begitu saja. Ia akantetap nongkrong di benak publik, mengingatkan bahwa meskisirkus sudah bubar, gajahnya tetap meninggalkan jejak di tengahkota.[]

