Page 254 - Demo
P. 254
217sela rapat kabinet yang sering lebih melelahkan daripada ikutOSPEK tiga hari tiga malam. %u201cWalaupun jadi menteri, saya tetap balik ke kampus,%u201d begituia bilang. Dengan tenang. Seolah-olah itu hal paling normal didunia, padahal di republik ini yang normal justru pejabat sibukselfie di bandara sambil memamerkan boarding pass.Latar belakang akademisnya sendiri ibarat lintasanmaraton intelektual. Mulai dari kampung di Belitung Timur,sekolah di Jakarta, lalu kuliah filsafat di Universitas Indonesia%u2014lulus tahun 1983, dengan gelar sarjana filsafat yang biasanyabikin orang tua panik, %u201cAnak saya bisa kerja apa nanti?%u201d Eh, ternyata bisa jadi menteri. Bahkan tiga kali. Lanjut S2dan S3 lintas bidang: hukum, ilmu politik, ilmu Islam, danberbagai riset di Punjab sampai Malaysia. Hingga akhirnyameraih Ph.D. di bidang Ilmu Politik tahun 1993, lalu%u2026 entahkarena hasrat intelektualnya menolak pensiun, kini malahsedang menyelesaikan program doktor lain di bidang filsafat.Bayangkan: orang lain cukup satu gelar doktor untuk jadibahan bangga keluarga besar. Yusril? Dua. Seperti punya pakethemat: satu untuk negara, satu untuk memuaskan dahagaberfikir.Lalu muncul pertanyaan klasik nan filosofis: apa hubungannya hukum dengan filsafat? Kenapa seorang pakarhukum justru meminang filsafat sebagai %u201cpasangan intelektual%u201d jangka panjangnya?Jawabannya sederhana tapi panjang %u2014persis seperti antrianmahasiswa yang bimbingan skripsi. Filsafat adalah dapurnyapemikiran; hukum adalah dapurnya tatanan sosial. Yang satu

