Page 250 - Demo
P. 250


                                    213Pada akhir Juni 2025, ia mendaki Gunung Rinjani melaluijalur resmi bersama rombongan pendaki lain. Namun di pertengahan jalur, tragedi terjadi. Juliana diduga terpeleset setelahpegangan atau equipment yang ia gunakan tidak dalam kondisiterbaik%u2014bahkan menurut beberapa keterangan, peralatan itusudah sering dipakai dan mengalami kelonggaran padapengaitnya. Upaya pertolongan dilakukan oleh tim gabungan SAR danTaman Nasional, namun nyawanya tak tertolong. Jenazahnyakemudian dievakuasi ke Denpasar untuk diotopsi. Ketika tiba di Brasil pada 1 Juli 2025, keluarga langsungminta otopsi ulang di Instituto M%u00e9dico Legal Rio de Janeiro demimemastikan waktu dan penyebab kematian secara akurat. Darisinilah badai polemik bermula %u2014antara rasa duka keluarga,kecurigaan publik Brasil, dan tuntutan agar ada penyelidikanmendalam serta kemungkinan gugatan internasional.Di sinilah publik Indonesia tiba-tiba merasa lega,setidaknya separuh. Karena media Brasil, khususnya FederalPublic Defender%u2019s Office (FPDO), sudah terlanjur bicara lantang%u2014seolah pemerintah Brasil siap menggendong Indonesia kemeja hijau internasional. Padahal, kata Yusril, FPDO itu bukan pemerintah.Statusnya seperti Komnas HAM%u2014bisa bicara keras, bisa bukakonferensi pers, tapi tidak bisa menandatangani notadiplomatik. Pemerintah Brasil sendiri, kata Yusril, belum pernahsekalipun mengirim nota protes resmi soal kematian Juliana.Diplomasi itu tidak bisa dikelola hanya dengan unggahanmedia sosial dan judul berita yang menggelegar.
                                
   244   245   246   247   248   249   250   251   252   253   254