Page 255 - Demo
P. 255


                                    218merumuskan %u201capa itu adil%u201d, yang satu merumuskan %u201cbagaimana adil itu dijalankan tanpa bikin negara ambyar%u201d. Aristoteles %u2014ya, Aristoteles yang itu%u2014 sejak 2.300 tahun lalusudah menanamkan dasar bahwa negara bukan cuma mesinaturan, tapi organisme moral. Dan siapa yang paling cocokmenerjemahkan etika menjadi pasal, prinsip menjadi prosedur,idealisme menjadi institusi? Juris yang mengerti filsafat.Makanya, di banyak negara, para jagoan hukum memangpara filsuf juga: Cicero, Hugo Grotius, Immanuel Kant (yangmembangun teori moral yang jadi fondasi hukum modern),sampai Hans Kelsen yang bikin teori hukum murni yang kalaudibaca sambil ngantuk bisa langsung melihat masa depan. Tradisi itu yang tampaknya dihidupkan kembali Yusril:hukum bukan sekadar ayat undang-undang, tetapi wacanamoral tentang hidup bersama.Dan di tengah kesibukan sebagai menteri koordinator%u2014jabatan yang tugasnya mirip %u201cdirektur semua direktur%u201d%u2014iatetap memilih berdiri di podium kelas. Ada yang bilang iniidealisme, ada yang bilang ini kebiasaan lama, ada juga yangsinis, %u201cAh, cari pencitraan.%u201d Tapi saya kira, di zaman ketika sebagian pejabat bahkanlupa bagaimana bentuk papan tulis, menjaga nafas intelektualseperti ini justru kerja kemanusiaan. Sebab begitu seorangpejabat berhenti membaca, berhenti mengajar, berhenti berpikir, maka keputusannya akan makin hari makin menyerupaibrosur iklan: banyak warna, banyak janji, sedikit isi.Lagi pula, seseorang yang pernah ikut menulis pidatopengunduran diri Soeharto %u2014peristiwa paling dramatis dalam
                                
   249   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259