Page 256 - Demo
P. 256
219sejarah republik%u2014 pasti paham bahwa kekuasaan itu fana, tapiilmu itu abadi. Ia yang pernah berdiri di pusaran reformasi,mendirikan partai, menjadi ketua umum, tiga kali masuk kabinet,menerima Bintang Bhayangkara dan Mahaputra, justru kembalimemilih ruang kelas sebagai pusat gravitasi intelektualnya.Dan entah kenapa, ada nuansa puitis di situ: seorangmenteri yang pulang ke kampus seperti anak kecil pulang kerumah.Pada akhirnya, mungkin itulah pelajaran paling sunyi:kekuasaan sering membuat orang merasa tinggi, tetapikembali mengajar membuat kita ingat betapa kecilnyapengetahuan yang kita punya dan betapa luasnya dunia yangbelum kita mengerti. Sebab jabatan bisa usang, popularitas bisa hilang, partaibisa pecah dua, tapi kegembiraan memahami satu teori baru%u2014atau melihat satu mahasiswa memahami konsep yangrumit%u2014 itu kebahagiaan yang tidak bisa diberikan olehprotokol istana mana pun.Kadang, tragedi intelektual bangsa ini bukan kurangnyabuku, tapi kurangnya pejabat yang sudi membaca. Maka ditengah hiruk-pikuk politik, seorang menteri yang pulang keruang kuliah bukan sekadar pemandangan langka; ia adalahpengingat bahwa republik ini masih punya peluang untukberpikir. Dan di zaman seperti sekarang, itu sudah termasukmukjizat.[]

