Page 260 - Demo
P. 260
223kebijakan nasional ketimbang ucapan ulang tahun.Di sinilah ada orang yang mulai bertanya, %u201cApakah inibentuk mencari muka?%u201d Pertanyaan yang sah, wajar, danbahkan otomatis muncul. Sebab, tak jarang ada orang yangmelihat, ketika ucapan ulang tahun memakai seragam jabatan,tangan negara, dan panggung kementerian, maka ia tidak lagipolos. Ia berubah menjadi sinyal politik, entah itu sinyal kesetiaan,sinyal kedekatan, sinyal kesiapan bekerja keras, atau%u2014janganjangan%u2014sinyal bahwa Yusril memahami betul ekologi politikIndonesia: bahwa formalitas adalah bahasa kekuasaan dankekuasaan suka dirayakan.Namun membaca ucapan itu lebih jauh, ada lapisan lainyang menarik. Nada Yusril jauh dari lebay. Tidak ada pujianberlebihan, tidak ada glorifikasi nasionalis, tidak ada kalimatberbunga-bunga yang membuat penonton memicingkanmata. Ia lebih seperti pejabat senior yang tahu batas: memberikanhormat, namun tetap menjaga jarak profesional. Tidak ada%u201cBapak Penyelamat Bangsa%u201d, tidak ada %u201cBapak di hati rakyat%u201d,tidak ada ornamen retoris ala baliho politik. Kalau ini dianggapmencari muka, maka ini adalah bentuk yang paling steril:formal, bersih, dan tidak menggulung-gulung.Tetapi, tetap saja, di republik ini, video macam begitu akanselalu dibaca ganda. Publik mendengar ungkapan doa, tapitelinga politik menangkap sinyal: Yusril sedang menegakkanetika birokrasi yang terkesan ingin memperlihatkan bahwa iaberjalan seirama dengan Presiden.

