Page 275 - Demo
P. 275
238perancang undang-undang yang kini harus membersihkankekacauan yang dihasilkan zaman. Judi online sudah bukan lagi kios kecil sebelah warung Indomievirtual; ia adalah gurita digital yang bisa membeli server,membangun jaringan, mengalirkan uang ke lintas benua, danmenyaru menjadi transaksi e-commerce. Dan kalau itu tidakdikejar dengan TPPU, kita sedang membiarkan tikusmenggunakan celana longgar hukum untuk berlari seenaknya.Ada humor tersendiri ketika Yusril, yang dulu menegosiasikanpasal-pasal TPPU dari usia balitanya, kini harus mendisiplinkananak itu dalam dunia yang berbeda total. Kalau dulu pencucian uang identik dengan koper dolar danmafia impor, kini bentuknya saldo e-wallet, chip judi, dan top-upmencurigakan di tengah malam. Modernitas memang lucu: dulukita takut bandit bersenjata, sekarang kita takut notifikasi bank.Namun di balik semua kejenakaan itu, ada refleksi yangmenampar pelan: bahwa hukum, seperti hidup, seringkali kembalimencari bapaknya. Dan Yusril, yang tangannya pernah belepotantinta RUU TPPU dua dekade lalu, kini harus turun lagimembersihkan noda-noda yang ditinggalkan generasi barupelaku kejahatan. Seakan sejarah berkata, %u201cProf, masih ingatanakmu ini? Ia sudah besar. Dan ia butuh disiplin.%u201dDalam lingkaran takdir seperti itu, kita belajar sesuatu: bahwaundang-undang bukan monumentum mati yang dititipkan kelemari negara, melainkan organisme yang harus diasuh, dimarahi,dirapikan, direvisi, dan%u2014kadang%u2014dikerasi. Dan dari perjalananYusril bersama TPPU, kita melihat garis besar yang takterbantahkan: bahwa di negeri yang uang haramnya selalu punya

