Page 279 - Demo
P. 279


                                    242migrain%u2014namun justru dalam kesunyian itulah mimpi Yusrilmenanam akar. Dari rumah itu, langkah kakinya menyusuriJakarta Selatan, hingga ia menemukan sebuah titik yang kelakmembentuk garis hidupnya: Masjid Agung Al-Azhar dikawasan Blok M.Di lingkungan YISC (Youth Islamic Study Club) MasjidAgung Al-Azhar itulah ia mulai bergaul, mengisi diskusi,belajar, berdebat, dan%u2014tentu saja%u2014mengkritik. AktivismeYusril tumbuh bukan dari studio YouTube atau ruang komentarmedia sosial, tapi dari halaqah, diskusi panjang, dan perdebatansengit yang asapnya sering kali lebih pekat dari aroma kopihitam yang diseduh menjelang Isya.Dalam lingkaran itu, hidupnya berdenting: bertemumahasiswa dari berbagai fakultas, dari anak FISIP yangbicaranya cepat, anak Hukum yang bicaranya berliku, sampaianak Teknik yang pembawaannya lurus tapi argumennyasering bikin orang bengong. Kampus UI tempat ia ditempabukan hanya ruang kuliah tapi juga ruang pergerakan. Iaberorganisasi, memimpin, bersuara; ia ikut memikul harapanribuan mahasiswa yang membayangkan negeri ini lebih baikdari sekadar perpanjangan tangan kekuasaan.Dan menjadi aktivis, pada masa itu, bukan pekerjaansambilan yang bisa dilakukan sambil upload konten atau bikinvideo merasa-dikriminalisasi. Menjadi aktivis berarti siapdiciduk, siap diinterogasi, siap dibentak aparat, siap dipanggilrektorat, dan siap mati gaya kalau ditilang Sudomo. Yusril pernah merasakannya: diskors karena posisinyasebagai Ketua MPM UI, dianggap membangkang, dianggap
                                
   273   274   275   276   277   278   279   280   281   282   283