Page 281 - Demo
P. 281
244Lalu, ketika ia bicara soal mental aktivis hari ini%u2014tentangmereka yang baru ditangkap sebentar sudah mogok makansampai kemudian ketahuan diam-diam menyantap nasibungkus di pojokan CCTV%u2014ia tidak sedang mencaci mereka.Ia sedang menyampaikan sesuatu yang lebih dalam: aktivismebukan panggung belas kasihan, tapi panggung keberanian.Pada masa ia bergerak, atavisme ditempa dengan bacaan,pemikiran, risiko, dan stamina moral. Sekarang, ujarnyadengan lirih namun tegas, terlalu banyak aktivis yang inginjadi pahlawan, tetapi tidak ingin menanggung resikopahlawan.Dari kampungnya di ranah Minang, dari Cipete yangsenyap, dari selasar Masjid Agung Al-Azhar, dari ruang diskusiUI, sampai ke ruang kabinet, jejak hidup Yusril adalah kisahseorang aktivis yang memilih jalur terjal. Ia tak sempurna %u2014dan ia pun tak pernah mengklaimdemikian%u2014 tapi ia menunjukkan bahwa aktivisme bukantentang drama, melainkan tentang daya tahan. Bukan tentangsiapa paling lantang, tapi siapa paling teguh. Bahkan ketika teman seperjuangannya sudah tiada, ketikatuduhan dan rumor berseliweran, ia tetap berjalan seperti orangyang tahu bahwa sejarah tidak menilai suara tertinggi, tetapilangkah paling konsisten.Pada akhirnya, kisah ini mengingatkan kita bahwa aktivisme sejati lahir dari kesediaan untuk kalah tanpa menyesal, ditekan tanpa patah, dan berdiri tanpa perlu sorotan kamera. Dari anak kampung yang dibesarkan oleh angin Melayu

