Page 78 - Demo
P. 78


                                    41Namun, memorial ini juga menjadi cermin satir bagi kita.Betapa mudahnya tragedi dilupakan jika simbol-simbol fisik takada. Betapa seringnya korban dianggap hilang begitu saja dalamstatistik, sementara pelaku bersembunyi di balik huruf-hurufundang-undang. Di Rumoh Geudong, negara mencoba menata ulang narasiitu: tulang-belulang yang dikubur menjadi monumen, tanggabeton menjadi saksi, taman bermain menjadi simbol bahwa masadepan tetap bisa dirajut meski dengan benang luka.Dan di antara tangga dan bunga, doa dan tawa, ada satupesan penting yang harus kita tangkap: pengakuan HAM tidakcukup jika hanya berhenti pada simbol. Ia harus menjadi prosesberkelanjutan, hadir dalam kebijakan, pendidikan, hukum, dankeseharian. Memorial Living Park adalah awal, tapi bukan akhir. Sejarahmenunggu kita untuk terus mengingat, menata ulang, danmemastikan bahwa kemanusiaan selalu lebih kuat daripadakekuasaan yang menindas.Sehingga, saat Anda berjalan di taman itu, mendengar adzandi masjid, melihat anak-anak bermain, ingatlah satu hal: dari luka,bisa lahir taman. Dari kematian, bisa lahir doa. Dari pengakuan,bisa lahir rekonsiliasi. Dan dari tragedi, bisa lahir kebijaksanaan %u2014yang jika dijagabaik, akan membuat kita tidak hanya melihat masa lalu, tapi jugamenatap masa depan dengan hati yang lebih manusiawi, lebihadil, dan tentu saja, lebih berani.[]
                                
   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81   82