Page 74 - Demo
P. 74


                                    37tapi menjadi cerita hidup yang membekas di setiap jengkal tanahRumoh Geudong.Kini, anak-anak bisa bermain di taman, masyarakatmenunaikan shalat di masjid, dan pengunjung berjalan di antarapondok-pondok peristirahatan. Apakah ini %u201cmenghapus sejarah%u201d? Sama sekali tidak. Inilahtransformasi yang dramatis: dari luka menjadi ruang aman, dariketakutan menjadi dialog, dari kematian menjadi doa. Di sinilah letak kejeniusan Yusril dan pemerintah:memberi ruang bagi masyarakat untuk mengingat, belajar,sekaligus membangun masa depan tanpa menelan amnesiakolektif.Memorial Living Park bukan sekadar simbol. Ini adalahjawaban atas pertanyaan mendasar: apa gunanya negara jikatidak hadir dalam trauma warganya? Jika di masa lalu negarahadir dengan kekuasaan yang menindas, kini hadir denganlegitimasi pengakuan, pemulihan, dan penyediaan ruangaman. Negara hadir untuk mengatakan: %u201cKami melihat kalian.Kami mendengar kalian. Kami akan menjaga kalian agartragedi serupa tak terulang.%u201dKawasan Memorial Living Park berdiri megah di atas lahanseluas lebih dari 7.000 meter persegi. Di sini, elemen-elementak hanya sekadar fisik: monumen peringatan berdiri angkuh,taman damai menenangkan mata, masjid menyapa ruhmasyarakat, ruang edukasi HAM mengajak akal berpikir.Di sana, area publik menanti dialog, dan sumur bor ataumenara air berdiri sebagai pengingat bahwa manusia butuhair dan hidup %u2014bahkan dalam ruang sejarah yang sarat luka.
                                
   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78