Page 73 - Demo
P. 73
36Ia berbicara dengan khidmat bahwa memorial ini bukansekadar taman publik, bukan pula panggung politik, tapi ruangpemulihan, refleksi, dan simbol rekonsiliasi. Negara akhirnya mengakui: pelanggaran HAM memangterjadi. Tak ada retorika kosong, tak ada basa-basi, meski tetapada aroma birokrasi yang samar.Gerbang kompleks rumah itu membawa kita pada sumuryang diyakini jejak rumah dibakar pada 1998, sisa dari DaerahOperasi Militer (DOM) yang terkenal itu. Di sebelahnya, limaanak tangga beton tetap berdiri %u2014sakral, bisu, penuhkenangan. Di tangan kita, tangga itu bukan sekadar beton; ia menjadimonumen kecil dari luka yang menempel pada tanah Aceh. Tulang-belulang korban, dikubur di bawah monumenmenyerupai nisan, memberi kesan bahwa tragedi masa lalukini menjadi fondasi pemulihan. Ironis? Pasti. Menyedihkan? Sangat. Tapi jugamengajarkan kita satu hal: memori kolektif bangsa tak bisadihapus dengan sebatang krayon atau selembar kertas putih.Rumoh Geudong bukan sekadar rumah tua. Ia pernahmenjadi pos strategis tentara saat konflik Aceh, tempat penyiksaan,pemerkosaan, dan pembunuhan terjadi antara 1989%u20131998. Thahir, salah satu korban yang selamat, diculik daridesanya karena tuduhan menyimpan senjata GAM. Ia disiksadengan setrum, pukulan rantai, rotan, dan kabel kendaraanhingga pingsan berkali-kali. Ia mendengar jeritan tetangga, melihat kematian temanteman sebaya. Semua itu tidak terekam dalam statistik sederhana,

