Page 209 - Demo
P. 209


                                    172Di Senayan ia menjadi juru tafsir konstitusi, tetapi di depankamera ia bisa berubah menjadi tokoh-tokoh masa lalu yangrambutnya mungkin tidak pernah sempat disisir. Itulah uniknya Yusril: hukum memberinya struktur, seni memberinya ruh.Kecintaannya pada sejarah juga bukan fandom setengahhati. Ia membaca buku sejarah dengan gairah yang sama ketikasebagian orang membaca saldo ATM setelah gajian. Dan kecintaan itu membawanya kepada sosok AmirHamzah %u2014penyair Pujangga Baru yang wafat tragis, tubuhdan kepala terpisah dalam gelombang Revolusi Sosial 1946 diSumatera Timur. Tragedi yang lebih menyerupai catatan hitambarbarisme ketimbang gerakan revolusi. Di mata Yusril, Amir bukan sekadar tokoh literasi; ia adalahpusaka Melayu, martabat yang dipenggal, sejarah yangdibiarkan menyayat diri sendiri bertahun-tahun tanpa resolusi.Ketika PB MABMI menetapkannya sebagai Ketua DewanPenasihat, Yusril menerima mandat itu bukan sebagai jabatankehormatan, melainkan sebagai panggilan budaya. Ia putraMelayu Belitung, tumbuh dengan tradisi, bahasa, dan kehalusan yang melahirkan para pujangga. Jabatan itu membuatnya satu langkah lebih dekat untuk membenahi sejarahyang robek dan martabat yang retak. Dalam kunjungannya ke makam Amir Hamzah di Tanjung Pura, Yusril tidak hanya membaca doa; ia membaca luka.Ia menuliskan refleksi tentang Revolusi Sosial, mengingatkembali istana-istana yang dibakar, tanah-tanah yang dirampas, bangsawan-bangsawan yang ditembak di sumur tuaAsahan. 
                                
   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212   213