Page 217 - Demo
P. 217
180bukan politik pengakuan. Meski demikian, konteks 2023%u20132025berbeda. Tragedi Gaza membelah moral publik dunia, danIndonesia%u2014yang sejak awal konsisten mendukung Palestina%u2014tidak lagi punya ruang abu-abu. Kini semua harus jelas: takada normalisasi terselubung, tak ada kompromi setengah hati.Ke depan, dilema akan selalu muncul. Olahraga internasional semakin kompleks, host country semakin dituntutberstandar global, dan federasi-federasi olahraga internasionaltidak mau tahu soal geopolitik lokal. Semua negara diwajibkanmembuka akses untuk peserta%u2014kecuali untuk kasus ekstremyang menyangkut sanksi global.Indonesia akan terus menghadapi dilema yang sama:menjaga prinsip tanpa kehilangan hak menjadi tuan rumahevent besar. Tetapi prinsip tetap prinsip. Sikap Yusrilmencerminkan pilihan Indonesia: lebih baik kehilanganpanggung turnamen dibanding kehilangan wajah keadilan.Bahkan jika federasi dunia marah, bahkan jika rankingdiplomatik olahraga menurun, bahkan jika ada risiko dicoretdari kalender internasional.Sebab dalam banyak hal, bangsa ini dibangun olehidealisme yang tidak bisa ditukar dengan medali. Kita bisabersikap pragmatis dalam hal anggaran, infrastruktur, atausponsor; tapi ketika menyangkut Palestina, Indonesia memilihjalan yang mungkin tidak populer secara global, tetapi benarsecara moral.Dan refleksinya sederhana: politik luar negeri adalah cerminjiwa sebuah bangsa. Kadang cermin itu retak, kadang buram,kadang memantulkan wajah yang berubah-ubah. Namun

