Page 376 - Demo
P. 376


                                    339jaringan, dan memastikan apakah ada keterkaitan pihak lainyang bisa memicu gangguan keamanan.Namun, untuk memahami konteks ini secara lebihmendalam, kita perlu melihat sejarah panjang pemberedelanbuku di Indonesia dan dunia. Di era kolonial, misalnya,pemerintah Hindia Belanda sering memberlakukan sensorketat terhadap tulisan dan buku yang dianggap berbahayabagi stabilitas kolonial. Buku-buku yang memuat ide kebangsaan, kritik terhadapkolonialisme, atau ideologi sosialis-liberal sering dibredel, disita,atau dilarang beredar. Salah satu contoh terkenal adalah bukubuku yang ditulis tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan yangdianggap menyulut semangat nasionalisme di kalanganrakyat%u2014buku-buku itu kadang disita sebelum sempatmencapai pembaca luas.Setelah kemerdekaan, pemberedelan buku tetap munculdalam berbagai bentuk, meski dengan nuansa berbeda. MasaOrde Lama dan Orde Baru punya cerita masing-masing. Di masa Orde Lama, pemerintah kadang menahanpenerbitan buku yang mengkritik kebijakan politik, ideologi,atau ekonomi negara. Sementara di masa Orde Baru, pemberedelan buku lebihsistematis, terutama terhadap buku-buku dengan ideologi kiri,terutama yang terkait PKI atau paham komunis. Contohnya,buku-buku yang memuat teori Marxisme-Leninisme ataukritik terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru kerapdilarang beredar, disita, bahkan penulisnya diawasi ketat. Inibukan sekadar paranoia; penguasa waktu itu menilai buku
                                
   370   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380