Page 490 - Demo
P. 490


                                    THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA467tampak sebagai pilihan kebijakan fiskal yang wajar. Namun, bagi para pelaku usaha dan komunitas golf, kategori ini terasa janggal dan menyinggung rasa keadilan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai mengapa hanya golf, dari sekian banyak cabang olahraga berbiaya tinggi, yang diperlakukan sebagai hiburan dan dipajaki berlapis%u2014Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dipungut, pajak hiburan menyusul%u2014sementara cabang olahraga lain dibiarkan tidak dikategorikan untuk masuk dalam pajak hiburan?652Perdebatan inilah yang kemudian sampai ke Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 52/PUU-IX/2011. Di ruang sidang itu, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah golf olahraga atau hiburan, melainkan pada sampai sejauh mana negara boleh menciptakan klasifikasi atau kategorisasi demi memaksimalkan sumber pajak, tanpa terjebak pada perlakuan yang diskriminatif dan inkonsisten dengan sistem hukumnya sendiri? Tulisan ini hendak menjelaskan hubungan antara fiskalisme daerah dan keadilan pajak, antara label hiburan dan martabat olahraga untuk menunjukkan bahwa diskriminasi pajak golf bukan sekadar soal tarif, tetapi juga persoalan untuk menjunjung persamaan di hadapan hukum.Perkara ini menemukan bentuk yudisialnya dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 52/PUU-IX/2011. Dari sudut tata negara, putusan ini menarik karena memaksa Mahkamah menjalankan fungsi memutus guna menjaga konstitusi tanpa menggantikan kebijakan. Mahkamah bukan 652. Citasco, %u201cBenturan Pajak Golf,%u201d Citasco, n.d., accessed January 5, 2025, https://www.citasco.com/news/benturan-pajak-golf/#:~:text=Adanya%20pengenaan%20pajak%20ganda%20pada%20satu%20objek,agar%20tidak%20memberatkan%20pelaku%20usha%20lapangan%20golf.
                                
   484   485   486   487   488   489   490   491   492   493   494