Page 115 - Demo
P. 115


                                    78diferensial yang baginya menentukan apakah negara perlumenarik pedang atau cukup menyalakan lampu jalan. Ia mengingatkan bahwa yang ditangkap kebanyakanmahasiswa, bahkan anak sekolah. Bahwa tidak ada satu punpasal makar yang dikenakan. Bahwa negara harus mengambiltindakan tegas tetapi tetap proporsional. Dan bahwa rumormogok makan bisa pecah hanya dengan satu bukti CCTV:terlihat mereka makan dengan lahap, sambil entah bercakapsoal apa.Sikap Yusril %u2014tenang, tajam, dan merangkul logikahukum%u2014 terasa seperti oase di tengah isu yang menumpukseperti cucian akhir bulan. Ia tahu luka publik masih basah, terutama keluarga Affan.Ia tahu negara tidak boleh main-main dengan keadilan. Danmungkin karena pernah berada di banyak persimpangansejarah, ia memilih jalan tengah yang jarang dipilih:menenangkan publik tanpa membohongi, menegakkanhukum tanpa membabi buta, dan merawat nalar negara ketikaopini publik sedang bergulung seperti gelombang sepedamotor di tikungan Sudirman.Pada titik ini, tragedi Affan Kurniawan berubah menjadicermin pahit: bahwa di negara yang penuh ambisi besar ini,nyawa orang kecil sering menjadi catatan kaki. Tapi di tangan seorang arsitek hukum seperti Yusril,catatan kaki itu justru dijadikan halaman utama: ia menegaskan bahwa penyebab kematian harus diproses secara pidana,bukan sekadar etik. Bahwa tidak ada mandat seragam yangbisa menyembunyikan kelalaian atau kesengajaan. Bahwa
                                
   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119