Page 113 - Demo
P. 113
76hidupnya sering kali ditentukan algoritma aplikasi dan sedikitkeberuntungan. Ironis benar, hidup yang sudah ringkih itu lenyap dalampusaran kerusuhan yang bahkan tidak pernah ia pilih.Demonstrasi boleh besar, tuntutan boleh lantang, tapi satunyawa yang hilang membuat seluruh kemelut itu terlihatseperti sandiwara murahan yang lupa bahwa panggungnyadihuni manusia, bukan wayang.Dalam suasana seperti itu, hadirlah Yusril Ihza Mahendra,yang sejak awal Reformasi seperti memiliki kompas moraltersendiri. Dari wawancara panjang yang terdokumentasidengan rapi, Yusril tampak berjalan dengan keseimbanganyang jarang dimiliki pejabat: satu kaki berpijak pada aturanhukum, kaki lainnya pada nurani. Ketika publik menuntut pembentukan Tim GabunganPencari Fakta (TGPF) untuk mengusut kerusuhan, termasuktewasnya Affan, Yusril tidak ikut panik, tidak ikut latah, danapalagi tidak tergoda untuk memainkan drama politik yangempuk untuk sensasi.Ia melacak persoalan secara konstitusional, bukan emosional. Menjelaskan bahwa tim independen macam TGPF, betapa pun niatnya mulia, tidak bisa serta-merta diberikan kewenangan pro-justisia %u2014karena menahan, menyita, menggeledah, semua itu bukan perkara %u201cniat baik%u201d, tetapi mandatundang-undang. Ia, seperti arsitek hukum yang sabar, memaparkan bahwakerja penyelidikan harus bertumpu pada lembaga yang sah,punya dasar legal, dan punya legitimasi moral yang terjaga.

