Page 128 - Demo
P. 128


                                    91Yusril menyambutnya positif. Tinggal menunggu waktu.Struktur tampaknya sudah dibuat, tinggal melengkapinyadengan nama-nama.Ia sepakat banget. Tapi dengan satu catatan: jangan ulangikesalahan lama. %u201cKalau hanya reformasi struktur tanpareformasi kultur, hasilnya nihil,%u201d ujarnya. %u201cYang harus dibenahibukan hanya undang-undangnya, tapi juga mental,pendidikan, dan orientasi kekuasaan dalam tubuh Polri.%u201dYusril menolak menjawab apakah dirinya akan dilibatkandalam komisi tersebut. Dengan senyum datar khas akademisiyang menyimpan ironi, ia hanya berkata, %u201cSaya sudah sejakdulu terlibat dalam reformasi Polri. Kalau Presiden menilaipengalaman saya masih berguna, tentu saya siap membantu.Tapi yang lebih penting, semangat reformasi itu jangan lagisekadar pidato atau proyek.%u201dKata-kata Yusril itu seperti cambuk halus di tengah forumdigital hening, yang kebanyakan diikuti alumni HMI. Seolahia sedang berbicara kepada murid yang lupa daratan: Polisiyang lahir dari rahim reformasi, tapi kini mulai kembaliberdandan ala zaman serdadu.Reformasi kepolisian bukan sekadar memoles struktur, tapimenata hati dan etika. Polisi tidak boleh lagi tampil seperti pasukan penyerbu yang menaklukkan rakyat dengan pentungandan pistol. Mereka harus kembali pada ruh asalnya: pengayom,pelindung, pelayan.Mungkin di situlah makna sejati dari nasihat Yusril: bahwahukum tanpa nurani adalah kekuasaan yang membeku; dankekuasaan tanpa batas adalah bencana yang berulang.
                                
   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132