Page 130 - Demo
P. 130
93Plus%u201d. Ini soal menata ulang paradigma: bahwa polisi adalahpelayan masyarakat sipil, bukan prajurit berseragam hitamyang bermimpi jadi jenderal perang. Polisi itu seharusnya penegak hukum, bukan penguasa jalanraya. Apalagi ikut berdemo melawan rakyat. Ia bekerja denganempati, bukan intimidasi. Dengan hukum, bukan dengan senjata.Dengan akal sehat, bukan dengan otot apalagi dengkul.Dan di sinilah perbedaan fundamentalnya dengan sebagiantuntutan para pengamat dan aktivis jalanan yang berteriak%u201cBubarkan Densus!%u201d, %u201cKembalikan Polri ke Kemenkopolhukam!%u201d, atau %u201cCopot Kapolri!%u201d. Yusril lebih halus %u2014sekaligus lebih dalam. Ia tidak memandang persoalan hanya di pucuk pimpinan,tapi di akar ideologi organisasi. Ia ingin %u201crekonstruksi mentalkelembagaan%u201d, bukan sekadar %u201crestrukturisasi jabatan%u201d.Baginya, inti reformasi adalah menegakkan kembali garissipilitas: kurikulum pendidikan yang humanis, sistemkomando yang tak menyerupai militer, etika yang menolakgaya kekuasaan berbasis ketakutan. Polisi yang berpihak pada warga, bukan pada perintahatasan yang takut kehilangan bintang di pundak.Nah, namun di tengah gairah reformasi ini, muncul dua%u201ctim penyelamat%u201d yang %u2014 kalau tak hati-hati %u2014 bisa jadi duakapal menuju arah yang sama tapi berlayar di arus berbeda.Yang pertama, Tim Reformasi Polri bentukan Kapolri,ibarat dokter internal yang mencoba menilai penyakit sendiri.Niatnya baik, tapi hasil diagnosanya bisa bias: terlalu banyakrasa sungkan untuk mengoreksi rekan seangkatannya

